Rugi Kurs Rp 16 miliar, Anabatic Technologies Tempuh Langkah Ini

JawaPos.com – PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) mengaku, sepanjang tahun ini perusahaan mencatat kerugian kurs hingga sebesar Rp 16 miliar. Pasalnya, pihaknya menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) untuk membeli sebagian barang yang merupakan produk impor.

Direktur ATIC Hendra Halim mengatakan, sehingga pihaknya berencana untuk menghapus seluruh utang berdenominasi dolar AS untuk menghindari peningkatan rugi kurs di 2019. Sebab, pihaknya memperkirakan masih ada ketidakpastian fluktuasi nilai tukar rupiah.

“Pada 2018 ini kami masih mempunyai utang dolar AS, maka tahun ini juga akan kami lunasi. Sehingga, tahun depan tidak mempunyai utang dolar lagi,” ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (4/12).

Rugi Kurs Rp 16 miliar, Anabatic Technologies Tempuh Langkah IniIlustrasi mata uang Dolar AS dan Rupiah ()

Menurutnya, pelunasan utang tersebut terkait dengan proyeksi perseroan yang menyimpulkan bahwa pada tahun depan akan berlanjut kondisi ketidakpastian pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

“Tahun depan masih ada ketidakpastian mata uang,” imbuhnya.

Lebih jauh, Hendra mengungkapkan, pelunasan utang ATIC akan memanfaatkan dana dari hasil penerbitan obligasi maupun kas internal.

“Kami kemarin sudah melakukan corporate action dengan menerbitan obligasi. Pelunasan utang juga akan bersumber dari kas internal,” kata dia.

Berdasarkan laporan keuangan ATIC pada Kuartal III-2018, perseroan mencatatkan rugi akibat selisih kurs sebesar Rp16 miliar, sehingga laba neto periode berjalan menjadi Rp17 miliar atau menurun 51 persen (year-on-year). Padahal, penjualan neto naik sebesar 19 persen menjadi Rp3,73 triliun.

Sementara itu, pada Kuartal III-2018, total liabilitas ATIC sebesar Rp3,06 triliun atau meningkat 25 persen (yoy). Peningkatan utang ini karena adanya tambahan fasilitas pinjaman terkait kebutuhan modal kerja dan utang obligasi sebesar Rp551 miliar.

Sedangkan, total ekuitas ATIC pada Kuartal III-2018 tercatat sebesar Rp784 miliar atau menurun 2 persen (yoy). Sehingga, total aset perseroan per akhir September 2018 sebesar Rp3,85 triliun atau meningkat 18 persen.

(mys/JPC)