Perdamaian Dagang Masih Jadi Angin Segar Rupiah Berlanjut Menguat

JawaPos.com – Perdagangan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) masih memiliki optimisme untuk terus bergerak menguat lantaran imbas dari hawa segar  perdamaian dagang sementara antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Seperti diketahui, mengutip yahoofinance, rupiah saat ini dapat menguat hingga 14.235.

Perdamaian kedua negara maju tersebut yang diumumkan setelah pertemuan G-20 di Argentina akhir pekan lalu berperan positif mengangkat selera risiko investor global di awal pekan perdagangan baru ini.

Analis pasar uang Forex Time Jameel Ahmad mengatakan, peningkatan selera risiko terlihat di berbagai kelas aset di seluruh dunia, termasuk selera yang meningkat di pasar saham dan sejumlah mata uang pasar berkembang diuntungkan oleh peningkatan selera investor terhadap risiko yang lebih tinggi dalam portofolio mereka.

Semua mata uang di wilayah Asia Pasifik menguat terhadap Dolar, kecuali Rupee India yang melemah 0,6 persen pada saat laporan ini dituliskan karena data domestik gagal mencapai ekspektasi. 

Won Korea Selatan, yang sering digunakan sebagai gambaran mata uang Asia terkait selera risiko investor, menguat lebih dari 0,85 persen sementara Yuan China menguat hingga 0,7 persen. 

Reli ini terjadi di berbagai pasar berkembang regional dan kelas aset lainnya, termasuk Rand Afrika Selatan dan Peso Meksiko yang menguat lebih dari 1 persen karena optimisme tercapainya perdamaian dagang. 

“Rupiah menguat lebih dari 0,55 persen karena membaiknya selera risiko dan Dolar yang melemah. Indeks Harga Saham Gabungan juga bergabung dalam reli pasar global,” ujarnya seperti diberitakan Selasa (4/12).

Menurutnya, reli yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa walaupun ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok tampak seperti masalah bilateral antar dua negara, namun dua kekuatan ekonomi raksasa dunia ini memiliki pengaruh luar biasa terhadap optimisme pasar global. 

Harga minyak mentah WTI menguat lebih dari 5 persen di awal perdagangan hari Senin, dan ini sangat menggambarkan bahwa optimisme pasar global dan kekhawatiran mengenai ketegangan dagang mampu memengaruhi pasar komoditas. 

“Minyak sangat terpukul dalam beberapa pekan terakhir karena kekhawatiran tentang keadaan ekonomi global yang berasal dari ketegangan dagang mengakibatkan penurunan permintaan minyak. Apabila ada perbaikan lebih lanjut mengenai masalah ini, maka akan dianggap sebagai sinyal “beli” di pasar minyak,” tuturnya.

Jika masalah ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok semakin membaik, kata Jameel, maka ini berpotensi menimbulkan reli pasar yang kuat sebelum perdagangan ditutup di tahun 2018. 

“Pertanyaan utama yang perlu diketahui investor saat ini adalah seberapa lama perdamaian dagang ini dapat bertahan, dan apakah ada ruang untuk kemajuan lebih lanjut dalam negosiasi dagang antara AS-China dari perdamaian ini?,” tandasnya.

(mys/JPC)