Menutup November, IHSG Berpotensi Menguat

JawaPos.com- Pasar saham Indonesia diperkirakan melanjutkan proses penguatan, ditopang aliran modal asing (capital inflow) di akhir pekan dan penutupan November tahun ini. Analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Suryawijaya, mengatakan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  berpelung menguat dan hanya menyisakan 20 hari perdagangan untuk ini. “Pada bulan ini terlihat IHSG masih terus berusaha naik di tengah capital inflow yang terus mengalir,” kata William, di Jakarta, Jumat (30/11). Selain itu, kata dia, pola penguatan IHSG juga didukung oleh stabilitas fundamental perekonomian domestik, sehingga tingkat kepercayaan investor dapat terjaga dengan baik. Lebih jauh dia menyatakan, saat ini IHSG memiliki support terdekat yang akan berupaya dipertahankan pada level 5.868, sedangkan target resisten terdekat yang berusaha ditembus ada di posisi 6.123. “Hari ini IHSG berpotensi naik,” ujarnya. Di tengah pergerakan IHSG yang berpeluang melanjutkan penguatan pada akhir bulan ini, William merekomendasikan sembilan saham yang bisa dicermati pelaku pasar, yakni: 1. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) 2. PT PP Properti Tbk (PPRO) 3. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) 4. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) 5. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) 6. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) 7. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 8. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 9. PT Bank Jatim Tbk (BJTM). 

(mys/JPC)

Pertemuan Trump dan Xi Jin Ping di G20 Bantu Penguatan Rupiah

JawaPos.com – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) di akhir bulan ini masih ada ruang untuk melanjutkan perjalanannya di zona hijau seiring masih adanya sentimen positif dari dalam negeri.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, meskipun demikian, kenaikan tersebut juga akan dibarengi dengan perkiraan kembali meningkatnya USD jelang pertemuan G20 Summit yang akan mempertemukan antara Presiden Xi dan Presiden Trump untuk membahas kesepakatan dagang diantara keduanya.

“Di perkirakan Rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.385-14.370,” ujarnya Jumat (30/11).

Reza menjelaskan, laju Rupiah mampu kembali mengalami kenaikan setelah merespon pergerakan USD yang melandai. Adanya komentar The Fed terkait dengan arah suku bunga yang cenderung netral membuat kenaikan USD tertahan sehingga memberikan kesempatan pada Rupiah untuk berbalik menguat.

Di sisi lain, lanjutnya, masih adanya imbas dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo yang menyampaikan bahwa prospek ekonomi Indonesia akan semakin membaik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan stabilitas yang tetap terjaga.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 diperkirakan tetap meningkat hingga mencapai kisaran 5,0-5,4 persen. Inflasi 2019 tetap terkendali pada kisaran sasaran 3,5+1 persen hingga harapan optimisme lainnya turut menambah sentimen positif pada Rupiah.

“Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah,” tandasnya.

(mys/JPC)

Komentar Bos The Fed Picu Dolar Turun Tahta, Rupiah Makin Kuat

JawaPos.com – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terkena imbas angin segar dari  pernyataan Ketua Dewan Gubernur Jerome Powell yang bernada dovish sangat membebani Dolar AS.

Mengutip yahoofinance, saat ini Rupiah masih menguat di level 14.350 per dolar AS.

Analis pasar uang Forex Time Lukman Otunuga menyampaikan, komentar Powell yang mengatakan suku bunga sedikit di bawah ekspektasi rentang netral kemungkinan besar memicu spekulasi bahwa Fed akan menghentikan dulu kenaikan suku bunga di tahun depan. 

“Ekspektasi investor mengenai kenaikan suku bunga setelah Desember menurun, sehingga Dolar mengalami penurunan lebih lanjut di jangka pendek,” ujarnya Jumat (30/11).

Menurutnya, berkurangnya kekhawatiran mengenai arus keluar modal karena Dolar yang melemah adalah perkembangan positif bagi negara berkembang. Mata uang pasar berkembang termasuk Rupiah akan paling diuntungkan oleh depresiasi Dolar kedepannya.

“Dari aspek teknikal, USDIDR bergerak kembali menuju 14300 karena Dolar melemah.

Lukman menegaskan, saat ini Dolar turun tahta sejak Rabu kemarin karena komentar dovish dari Powell memicu investor untuk mengevaluasi kembali ekspektasi kenaikan suku bunga.

 “Perlu diperhatikan bahwa salah satu penggerak utama di balik apresiasi Dolar yang fantastis dalam beberapa bulan terakhir adalah spekulasi kenaikan suku bunga. Investor kini hanya memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga lagi di 2019, sehingga bulls terancam kehilangan kehebatannya,” tuturnya.

Perhatian investor akan tertuju pada hasil rapat Fed yang kemungkinan besar mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga di bulan Desember. Hasil rapat ini akan sangat diperhatikan untuk mencari isyarat lebih lanjut seputar rencana kenaikan suku bunga Fed di tahun 2019. 

“Apabila hasil rapat bernuansa dovish seperti pernyataan Powell, maka Dolar mungkin dalam masalah,” tandasnya.

(mys/JPC)

4 Uang Kertas Ini Kedaluwarsa, Tukar Kesini Sebelum 30 Desember 2018

JawaPos.com – Per 30 Desember 2018, empat uang kertas yang beredar di masyarakat akan dicabut alias kadaluwarsa. Nantinya, uang tersebut sudah tidak laku alias tak bisa digunakan untuk transaksi lagi. Empat uang tersebut adalah pecahan Rp10.000 bergambar Cut Nyak Dien, Rp20.000 bergambar Ki Hajar Dewantara, Rp50.000 bergambar WR Supratman dan Rp100.000 bergambar Bung Karno dan Bung Hatta dengan gambar belakang Gedung MPR.

Dikutip dari web resmi Bank Indonesia, Bank Indonesia memberikan penggantian sebesar nilai nominal kepada masyarakat yang menukarkan uang yang dicabut dan ditarik dari peredaran sepanjang masih dalam jangka waktu 10 tahun sejak tanggal pencabutan dan masih dapat dikenali keasliannya.

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU RI No.3 Tahun 2004 pada pasal 23 ayat 4 disebutkan bahwa “hak untuk menuntut penukaran uang yang sudah dicabut, tidak berlaku lagi setelah 10 tahun sejak tanggal pencabutan”.

Empat uang kertas itu sudah dicabut sejak 30 Desember 2008. Namun, batas penukarannya sampai 30 Desember 2018atau 10 tahun sejak tanggal pencabutan. Jika sudah melewati batas penukaran maka uanh tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi sebagai alat transaksi yang sah.

Bagi masyarakat yang mau menukar, bisa melalui:

Penukaran di Bank Indonesia dilakukan di:

Kantor Pusat Bank Indonesia Cq. Departemen Pengelolaan Uang  Lobby Gedung C, Komplek Perkantoran BI Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta Pusat 10350 Telp. 2981 8722, 2981 7297 (hari dan jam kerja). Waktu layanan: Hari Senin s.d. Jumat mulai pukul 09.00 – 11.30 waktu setempat.

Kantor Perwakilan Dalam Negeri (KPw-DN) Bank Indonesia yang terdekat. Waktu layanan: pada hari-hari tertentu mulai dari pukul 09.00 – 11.30 waktu setempat.

(uji/JPC)

Rupiah Makin Perkasa, Kini Tembus Rp 14.295 per USD

JawaPos.com – Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin menguat dengan memanfaatkan pelemahan dolar Paman Sam. Mengutip yahoofinance, saat ini rupiah berada di level Rp 14.295 per USD.

Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan indeks dolar masih diperkirakan melemah ke level 96,4-96,6 terhadap mata uang kuat utama dunia lainya.

“Indeks dollar melemah rupiah diperkirakan bergerak menguat. Rupiah kemungkinan menguat ke level Rp 14.300-14.370 per USD,” ujarnya Jumat (30/11).

Menurutnya, pelemahan dolar masih disebabkan oleh dovishnya pernyataan Gubernur The Fed terkait tingkat suku bunga AS yang diperkirakan sudah mendekati level netral.

Selain itu, pelemahan terhadap dolar indeks tersebut diperkirakan dapat berlanjut jika pertemuan G-20 yang akan berlangsung pada hari Jumat dan Sabtu antara Presiden Trump dan Xi Jinping dapat menghasilkan solusi atas masalah perang dagang yang tengah berlangsung antara AS-Tiongkok.

(mys/JPC)